Jumat, 02 Desember 2011

Meluncurkan MPTV-Online, Melakukan Perlawanan Kebudayaan

Made Pradnyawati Chania menatap layar laptop. Sesekali matanya berkedip gelisah. Beberapakali ia memperbaiki kaca mata. Ia mengerutkan dahinya. Di layar laptop terpampang halaman web MPTV-Online. Gambar di layar terlihat bergerak lambat dan patah-patah. “Hhhh........,” desahnya sembari menghembuskan nafas agak panjang.

“Kalau begini saya tidak bisa tidur malam ini,” keluhnya saat guru pembimbing dan sesama rekan di klub jurnalistik ‘Madyapadma Journalistic Park’-SMAN 3 Denpasar menyarankan untuk berhenti mengotak-atik web MPTV-Online (Madyapadma Televisi-Online-red) dihadapannya. Padahal jarum jam sudah merayap mendekati jam sepuluh malam. Malam itu memang beberapa anggota tim inti ‘Madyapadma Journalistic Park’ dan guru pembimbing masih bertahan di sekolah. Mereka menyiapkan acara peluncuran MPTV-Online keesokan harinya.
Chania gelisah karena gambar di layar MPTV-Online bergerak lambat. Padahal sudah hampir delapan bulan ia menyiapkan MPTV-Online. Ia memulai dengan mempelajari secara otodidak dari buku tentang TV-Online yang diberikan pembimbingnya. Dua hari sebelumnya rasa optimis sempat menjalari diri Chania. Ketika itu dengan gembira ia mengirim pesan singkat melalui handphone ke guru pembimbing,”Kak, MPTV-Online sudah bisa dilihat semua orang! Alamatnya www.blogtv.com/people/mptv-online . Sekarang akan saya publish di web (madyapadma-online-red) dan mini madyapadma (grup di jejaring sosial Face Book-red)”. Hanya saja rasa optimis itu mulai goyah dengan kondisi sistem jaringan internet di sekolahnya. “Padahal saat uji coba beberapa hari lalu, sudah ada penonton dari New York (Amerika Serikat-red),” tutur Chania gelisah. Ia mengetahui hal itu dari informasi yang terpampang dalam sistem televisi online.
Akhirnya, setelah diskusi dan memilih beberapa alternatif pemecahan, Chania bersedia pulang malam itu. “Walau saya belum tenang sepenuhnya,” cerita gadis yang duduk di kelas XII SMAN 3 Denpasar.
Esoknya, MPTV-Online diluncurkan secara resmi oleh Kepala Perwakilan The Jakarta Post di Bali, I Wayan Juniarta. Saat meluncurkan, Juniartha didampingi Kepala SMAN 3 Denpasar, I Ketut Suyastra dan Pemimpin Umum Madyapadma Journalistic Park, Ni Made Karina W. Menurut Juniartha, peluncuran MPTV-Online merupakan tonggak sejarah yang layak dicatat dalam sejarah. Ini untuk pertama kalinya di Indonesia, pelajar SMA meluncurkan televisi online. “Tonggak berikutnya, inilah untuk pertama kalinya generasi muda melakukan proses perlawanan kebudayaan terhadap kebudayaan barat,” tandas Juniartha. Sebab, menurut Juniartha, selama ini generasi muda dan juga orang dewasa di Indonesia sebagian besar hanya sebagai konsumen dari produk barat termasuk berondongan budaya melalui media barat seperti FOX-TV dan MTV. Tetapi anak-anak muda yang tergabung dalam klub jurnalistik ‘Madyapadma Journalistic Park’ memulai bertindak sebagai produsen dengan membuat MPTV-Online. “Soal beberapa kekurangan di sana-sini, itu dapat diperbaiki. Tetapi keberanian mereka membuat MPTV-Online ini patut mendapat apresiasi dan membanggakan,” terang Juniartha.
Peluncuran MPTV-Online, Jumat (30/9) lalu, merupakan penantian panjang anak muda yang tergabung dalam ‘Madyapadma Journalistic Park’. Sebelumnya, di bulan November 2004, mereka telah meluncurkan MPTV. Sebuah jaringan televisi di lingkungan SMAN 3 Denpasar. Jaringan televisi sekolah yang memanfaatkan rangkaian kabel-kabel rancangan sendiri mereka ini sempat terhenti setahun, karena ruangan yang dijadikan studio MPTV direnovasi dan diubah menjadi ruang laboratorium. Untuk sementara, pada peluncuran ini MPTV-Online, mereka meminjam ruangan multimedia. “Untuk siaran rutin, untuk sementara kami akan berpindah-pindah tempat. Termasuk untuk siaran sabtu ini (sehari setelah peluncuran-red), kami memakai kantin sekolah,” terang Kordinator Audiovisual Madyapadma, I Made Febriantow Sukahet. Menurut Febriantow, siaran MPTV-Online akan berlangsung dari hari Senin-Sabtu jam 15.00 – 16.00 WITA. “Walau belum mendapat studio tetap, tetapi kami merasa bangga dapat mewujudkan impian kami yang telah berlangsung selama tujuh tahun,” ungkap Karina dengan mata berkaca-kaca seusai peluncuran MPTV-Online. (I Wayan Ananta Wijaya)

Senin, 21 Februari 2011

Trisma, Foursma dan Sixma Lolos ke Grandfinal

Tiga tim Koran dinding (kording) SMA di Denpasar lolos ke babak grandfinal lomba Kording PKM “Akademika” Unud. Grandfinal tingkat provinsin akan digelar 13 Maret 2011 di Denpasar. Grandfinal mempertemukan juara di masing-masing kabupaten. Siapa saja ketiga tim itu?

Ketiga tim itu masing-masing klub jurnalistik ‘Madyapadma Journalistic Park”-SMAN 3 Denpasar, klub jurnalis SMAN 4 Denpasar dan SMAN 6 Denpasar. Mereka menyisihkan delapan tim yang berlomba untuk tingkat kota Denpasar. SMAN 6 Denpasar (Sixma) meraih peringkat ketiga. SMAN 4 Denpasar (Foursma) peringkat kedua dan SMAN 3 Denpasar (Trisma) peringkat pertama. Hasil ini mendekati komposisi tahun lalu. Tahun lalu urutan pertama sampai tiga juga berurutan SMAN 3 Denpasar, SMAN 4 Denpasar dan SMAN 6 Denpasar. Hanya saja tahun lalu ada empat yang lolos yaitu SMAK Souverdi Tuban (tahun lalu digabung Denpasar-Badung-red). “Jalan masih panjang, kami harus lebih baik lagi. Karena kami ingin mempertahankan piala bergilir,” tutur Pemimpin Umum klub jurnalistik ‘Madyapadma Journalistic Park’. Ni Made Karina Wiraswari. Jika Karina dkk mampu mempertahankan piala bergilir, berarti untuk ketiga kalinya berturut-turut piala bergilir diraih SMAN 3 Denpasar.
Hasil lainnya, peringkat empat diraih SMAN 1 Denpasar. Sementara itu untuk rubrik-rubrik terbaik masing-masing adalah Laporan Utama terbaik diraih SMAN 3 Denpasar, Wawancara Transparan Terbaik (SMAN 3 Denpasar), Tajuk Terbaik (SMAN 3 Denpasar), Artikel Terbaik (SMAK Santo Joseph Denpasar), Resensi Terbaik (SMAN 3 Denpasar), Profil Terbaik (SMAN 4 Denpasar) dan Artistik Terbaik (SMAN 3 Denpasar) (wijaya).

Kamis, 10 Februari 2011

Melepas Jeruji Penjara Pers

Oleh: Nila Pertina

Kemerdekan sejati, agaknya kata-kata itu bagi pers di Indonesia tak sepenuhnya di miliki oleh pers di negeri ini. Baru hangat rasanya 9 Februari diperingati sebagai Hari Pers Nasional (HPN) tapi kebebasan pers di negeri ini masih terancam. Jelas! Melihat kenyataan yang terjadi di pers Indonesia tentu masih mengoyak kemerdekaan para jurnalis di negeri demokratis ini.
Aliansi Jurnalis Independen mencatat di tahun 2009, tercatat ada 44 kasus kekerasan terhadap pekerja pers. Angka itu meningkat dibanding tahun sebelumnya, yang cuma 33 kasus kekerasan. Ironis memang! Hal itu sudah barang tentu berbading terbalik dengan Undang-Undang No. 40/1999 tentang Pers negeri ini. Pers kadang kala membuat sarut marut negeri ini bahkan parahnya lagi menimbulkan kericuhan dengan pemberitaan yang diangkatnya, namun di balik itu semua akan tereduksi dan lahirlah keadilan. Bagaimanapun pers adalah ruang bagi idealisme dan hati nurani untuk bicara terbuka dalam pemberitaan yang diangkatnya. Sayang pesan dari pemberitaan pers tak dapat diterima oleh segelintir orang yang merasa dirugikan. Bagi mereka yang dirugikan pers adalah musuh. Padahal jika diamati dengan jelas dengan adanya pers berhasil mengangkat penyakit-penyakit bangsa ini, dengan lebih leluasa. Mereka adalah media pemberitaan yang membuka mata, telinga kita terhadap hal yang terjadi tak hanya sekadar di bangsa ini juga negara lain.
Padahal banyak hal yang menguntungkan dari adanya pers. Tapi masih saja kasus kekerasan terjadi pada pers negeri ini, bahkan semakin meningkat. Pers bergrilya dari tiap tempat hanya demi mengungkap keterbukaan yang notabene untuk membuka cara pandang kita. Jika kekerasan terhadap pers dibiarkan maka apa jadinya negeri ini tanpa pemberitaan? Kebebasan pers menjadi salah satu tolak ukur dan prinsip tegaknya proses demokrasi. Tanpa pers yang independen dalam menjalankan fungsinya, demokratisasi dinilai bukan lagi demokratisasi! (penulis adalah sekretaris umum klub jurnalistik 'Madyapadma Journalistic Park' - SMAN 3 Denpasar)

Info Bagi Penulis Muda-Remaja

Hai kawan-kawan 'Suara Muda Bali'

Jika kamu punya tulisan apa saja, misalnya artikel, berita sekolah, berita kampus, berita di sekitar lingkunganmu, resensi, profil seseorang, esay atau tulisan lainnya, silahkan kirim ke 'Suara Muda Bali'. Tulisan dapat dikirim ke email: suaramudabali@gmail.com.
Bagi tulisan yang dimuat di blog 'Suara Muda Bali' akan mendapatkan sertifikat. Kami tunggu tulisan-tulisanmu.

Selasa, 25 Januari 2011

Dua Siswa Bali Lolos Ke ICSY 2011 di Moskow

Denpasar,
Dua siwa Bali, Luh Laksmi Dharayanti Satria (SMAN 1 Singaraja) dan Jessica Ikhwan (SMA CHIS Denpasar) lolos seleksi nasional Tim Indonesia untuk ICSY (International Conference of Young Scientists) yang akan berlangsung tanggal 24-29 April 2011 di Moskow-Rusia.


Seleksi yang diselenggarakan Surya Institute ini dilakukan 15-16 Desember 2010 di Bandung-Jabar. Adapun pengumumannya via Dikspora (Dinas Pendidikan dan Olah Raga) masing-masing provinsi, kemarin (21/12). Kedua siswa dari Bali tersebut termasuk dalam 13 siswa yang dinyatakan lolos.
Ke-11 siswa lainnya meliputi bidang Fisika yaitu Arief Ridho Kusuma dari (SMAN 1 Samarinda) dan Sallie Naomi (SMP St. Laurensia-Tanggerang). Bidang Matematika meliputi Michael Sunarto (SMP Chandra Kusuma-Medan) dan Christa Lorenzia Soesanto (SMA St. Laurensia-Tanggerang). Bidang Komputer adalah Reza Abdurahman (SMA Taruna Nusantara-Magelang) dan Ganang Albryansah (SMPN 1 Bontang). Bidang Ekologi ada tujuh siswa yaitu Dwiky Rendra Graha Subekti (SMA Theresiana 1-Semarang), Fialdy Josua Pattirajawane (SMP Chandra Kusuma-Medan), Luthfi Mu’awan (SMAN 1 Purwareja), Jessica Lo (SMA Kristen Cita Hati-Surabaya), Christy Hong (SMA St. Laurensia-Tanggerang). Dua lagi adalah siswa dari Bali, Luh Laksmi Dharayanti Satria (SMAN 1 Singaraja) dan Jessica Ikhwan (SMA CHIS Denpasar).
Ke-13 siswa tersebut lolos melalui seleksi yang ketat di Bandung setelah menjuarai masing-masing region yaitu Jawa, Bali, Sumatera dan Kalimantan. Menurut Kordinator ICYS Indonesia, Monika Raharti, M.Si, sejak keterlibatan Indonesia dalam ajang ICYS beberapa tahun lalu, Tim Indonesia selalu diperhitungkan. Apalagi dalam ICYS 2009 di Polandia, Indonesia merebut juara umum. “Keunggulan Indonesia adalah penelitian yang unik dan lokal serta temanya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari dan aplikatif,” terang Monika saat ditemui di Denpasar beberapa waktu lalu. Menurut Monika, ke depan ia berharap akan lebih banyak lagi siswa dari Bali yang lolos ke ajang ICYS.
Terkait lolosnya dua siswa dari Bali, pihak Dinas Dikpora Bali sangat mendukung dan suport. “Kami akan membantu mencarikan biaya dan sponsor untuk pemberangkatannya ke Rusia,” ucap Kepala Seksi Kesiswaa Dinas Dikpora-Bali, Made Sudana,(21/12) saat ditemui di Denpasar. (I Wayan Ananta Wijaya)
Catatan:
Berita ini sebelumnya dimuat di The Jakarta Post

Kamis, 20 Januari 2011

Mengemas Tradisi Dalam Modernitas

Oleh:
A A Sagung Dwi Adnyaswari

Dalam ruang lingkup kehidupan, hiburan tak dapat dikesampingkan. Hiburan terdiri dari berbagai bentuk, fungsi, ataupun dampak yang ditimbulkan. Permainan yang cukup melatih otak ataupun fisik, tak terkecuali di dalamnya.
Permainan anak-anak memang tidak semeriah dulu. Banyak anak-anak yang beralih pada hiburan lain, ketimbang memainkan suatu permainan yang tak kalah seru. Permainan ini terbagi menjadi permainan tradisional dan modern. Pergeseran makna, menyebablan permainan tradisional sangat jarang untuk dijumpai. “ Terlalu kuno. Udah enggak jaman. Banyak permainan yang lebih keren. “ Begitulah tanggapan yang terlontar dari bibir anak-anak jaman sekarang. Mereka lebih memilih memainkan permainan monopoli, halma, rubik’s, atau memilih duduk nyaman di depan monitor komputer untuk bermain game online ( point blank ) , dibanding permainan daerah yang telah berakar di daerah masing-masing, contoh : meong-meong, petak umpet, dengkleng, congklak ataupun kelereng.
Terlihat sangat kontras perbedaan kedua jenis permainan tersebut. Dari bentuk, para pemain, hingga dampak yang ditimbulkan. Permainan tradisional yang kini mulai ditinggalkan para peminatnya, jika diteliti lebih jauh memiliki sudut pandang seni yang cukup tinggi. Bahkan permainannya tidak kalah menarik dengan permainan modern. Tetapi tidak sedikit, anak-anak di suatu tempat berusaha untuk melestarikannya. Selain itu, permainan tradisional, meramahkan lingkungan sekitar, serta memerlukan media yang tidak sulit. Dampaknya pun menyenangkan. Unsur tradisinya cukup kental.
Dengan munculnya berbagai permainan modern yang kini membius para penikmatnya, dari berbagai kalangan usia untuk memperhatikannya. Mencoba mengikuti alur globalisasi, segala masyarakat dari berbagai lapisan usia, mampu memainkannya. Tanpa menghabiskan banyak tenaga, dampaknya pun dapat dirasakan. Layaknya mendapat hiburan.
Permainan modern memang diperlukan. Asalkan para penggunanya mampu mempraktekkannya tepat sasaran. Permainan modern memang lebih mengacu pada kestabilan otak, dibandingkan fisik yang identik dengan permainan tradisional. Namun tidak sepenuhnya, terjadi pergeseran yang berarti.
Dengan meng-kolaborasikan permainan tradisional dengan permainan modern, memungkinkan menjadi salah satu alternatif untuk mencegah punahnya permainan tradisional tersebut. Di sini para seniman, ataupun penggemarnya, dituntut untuk berpikir kreatif dalam mengkombinasikannya, menjadi satu kesatuan yang utuh, hingga menciptakan jenis permainan yang berbeda.
Permainan yang memiliki nilai estetika yang tinggi ( permainan tradisional), contoh : meong-meong, dapat dikemas dalam bentuk berbeda dengan sentuhan modern. Hingga menjadi permainan meong-meong, dengan iringan musik modern (pop atau rock). Sehingga permainan lebih menarik. Unsur budayanya masih melekat, tetapi lebih memacu adrenalin dalam menjalankannya.
Atau dengan bentuk kombinasi lain. Permainan kelereng atau petak umpet, dikemas menjadi suatu permainan yang memerlukan suatu media elektronik. Memungkinkan para pemain, menggunakan jasa game online untuk menikmatinya. Di sana terlihat jelas, antara permainan tradisional dapat saling melengkapi dengan permainan modern. Seperti pernyataan tersebut, tradisi dapat berjalan beriringan dengan globalisasi, dengan tujuan positif. (Anggota Madyapadma Journalistic Park-SMAN 3 Denpasar) / Jenis: Artikel

Rabu, 19 Januari 2011

Arsitektur Bali, Upaya Warga Mencipta Ruang Kota Yang Nyaman


Oleh: Ni Nyoman Alit Purwaningsih

            Wajah Bali kini berbeda dengan wajah Bali dulu. Ruang Bali dulu, tak sesempit kini. Begitu sesak dengan tumpukan rumah ataupun deretan bangunan tanpa celah. Akhirnya, kawasan yang ramah lingkungan dan hemat energi pun memudar kian waktu. Dampaknya pun tak segan-segan berujung pada perubahan iklim.
            Perubahan iklim merupakan ancaman terbesar bagi kita di seluruh dunia. Pulau-pulau kecil seperti Bali akan merasakan dampak terburuknya karena naiknya permukaan air laut. Tak hanya itu. Akibat perubahan iklim, hujan menjadi tak menentu. Ditambah tata ruang  Denpasar yang tak ramah lingkungan, akibat empat tahun belakangan ini Denpasar menjadi langganan banjir. Adakah usaha kita untuk menjaga Gumi Bali?
            Menjaga gumi Bali dapat memulai dari rumah tangga. Setidaknya mulai dari bangunan atau arsitektur rumah. Menyinggung arsitektur rumah, di Bali dikenal arsitektur tradisional Bali.  Sayangnya, arsitektur tradisional Bali kini memudar. Padahal jika ditilik lebih jauh, bangunan yang berarsitektur Bali mampu  mengurangi resiko perubahan iklim. Bagaimana tidak. Bangunan tradisional Bali merupakan bangunan yang ramah lingkungan. Contohnya saja bangunan yang berarsitektur Bali memiliki keunggulan penataan ruang yang menjadikan sirkulasi udara berjalan lancar dan sejuk. Dampak positifnya pun akan dapat mengurangi pemakaian AC (Air Conditioner) dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi jika dilihat dengan kondisi sekarang, suhu udara bumi mampu membakar kita. Padahal, penggunaan AC yang mampu membuat kita sejuk, ujung-ujungnya juga akan membuat bumi menjadi panas.
            Menurut penelitian, keberadaan AC (Air Conditioner) terus disoroti karena menggunakan kompresor yang mengandung bahan kimia berbahaya. Masalah utamanya terletak pada CFC (Kloroflorokarbon) yang mengisi setiap kompresor AC maupun alat pendingin lainnya (IATPI, 2007). Gas CFC digunakan sebagai gas pengembang, karena tidak bereaksi, tidak berbau, tidak berasa. CFC banyak digunakan untuk mengembangkan busa kursi, AC, pendingin lemari es, dan penyemprot rambut. CFC tidak terbentuk  secara  alami.  CFC  hanya  ada dalam jumlah kecil di atmosfer (kurang dari 0,000001%), namun CFC memiliki sekitar 10.000 kali efek rumah kaca jika dibandingkan dengan CO2. Gas beracun inilah yang dituding sebagai penyebab menipisnya lapisan ozon di stratosfer. Karena lapisan ini berfungsi untuk mengurangi intensitas sinar UV dari matahari, maka menipisnya lapisan tersebut dapat menyebabkan bertambahnya intensitas sinar UV yang mencapai permukaan bumi.
            Nah, dari kenyataan itu, penggunaan AC memang menjadikan ruangan menjadi dingin dan sejuk, tetapi membutuhkan energi yang berasal dari listrik dan pada sumbernya akan menghasilkan gas-gas yang malah membuat bumi semakin panas. Jika seluruh rumah menggunakan AC, dapat dibayangkan jika udara diluar semakin panas, dan energi yang dihasilkan begitu besar.
            Karena itu, bangunan berarsitektur Bali adalah sebuah kearifan lokal yang mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim global. Arsitektur rumah Bali memiliki tata ruang yang tembus angin dan akrab dengan alam. Dengan adanya banyak celah dan sekat-sekat yang menyatu dengan alam, itu memungkinkan sirkulasi udara dapat berjalan dengan baik. Sehingga, jika diterapkannya rumah berarsitektur Bali, proses perusakan ozon oleh gas CFC yang diproduksi oleh kompresor AC akan berkurang. Hal ini dikarenakan rumah berarsitektur Bali merupakan bangunan hunian yang terdiri dari sebuah halaman yang dikelilingi dinding pembatas pagar dari batu bata dan berisi unit-unit atau bagian-bagian bangunan terpisah yang memiliki fungsi masing-masing. Dengan otomatis, pemakaian AC atau pendingin ruangan dapat lebih ditekan.
            Menurut Cakraningnusa, arsitektur tradisional Bali yang dikenal, mempunyai konsep-konsep dasar yang mempengaruhi tata nilai ruangnya. Salah satunya Tri Angga. Tri Angga adalah konsep dasar perencanaan arsitektur rumah-rumah Bali yang merupakan asal dari Tri Hita Karana. Tri Angga terdiri dari Nista (bawah, kotor, kaki), Madya (tengah, netral, badan), Utama (atas, murni, kepala). Selain itu terdapat konsep Rwa Bhineda yang merupakan penyatuan dua unsur tata nilai yang berbeda, yaitu Purusha-Predana, Lingga-Yoni, dan langit dan bumi. Hal ini terlihat dari konsep tata ruang rumah berarsitektur Bali yang ‘tembus angin’, sehingga tidak diperlukannya AC (Air Conditioner) sebagai pendingin ruangan.
            Namun melihat realitanya, keberadaan rumah tradisional Bali kini tinggal kenangan. Pulau yang memiliki konsep rumah tradisional yang asri dan alami berdasarkan tatanan dan norma-norma Bali seperti Astha Kosala, Kosali dan Astha Bumi, rupanya telah terkikis dan tercabut dari akarnya. Tatanan kota sudah berubah dari tradisi menjadi bangunan modern penuh glamor. Lihat saja contohnya wajah-wajah di daerah pariwisata seperti Kuta. Porsi bangunan yang berasitektur Bali sangat sedikit. Mayoritas lebih mengadopsi kearifan budaya Barat yang menampilkan kesan internasionalisme.
            Selain itu, disebabkan juga karena belum banyak masyarakat yang sadar bahwa bentuk dan arsitektur dari rumah mempengaruhi jalur masuk udara yang berhembus, sehingga keadaan di dalam rumah akan terasa sejuk.
            Menurut Cakraningnusa, arsitektur tradisional Bali dapat diartikan sebagai tata ruang dari wadah kehidupan masyarakat Bali yang telah berkembang secara turun-temurun dengan segala aturan-aturan yang diwarisi dari jaman dahulu, sampai pada perkembangan satu wujud dengan ciri-ciri fisik yang terungkap pada rontal Asta Kosala-Kosali, Asta Patali dan lainnya, sampai pada penyesuaian-penyesuaian oleh para undagi yang masih selaras dengan petunjuk-petunjuk dimaksud.
            Warisan leluhur itupun banyak menurunkan akan kearifan yang tanggap terhadap alam. Tentunya sangat berperan dalam fungsionalnya beradaptasi dengan bumi. Apakah kita akan menyia-nyiakan kearifan leluhur kita, yang secara nyata memberikan suatu kontribusi positif untuk kita? Tentu kita berharap tidak! Karena dengan menerapkan rumah berarsitektur Bali secara tidak langsung kita telah berperan aktif sebagai warga kota untuk mewujudkan tata ruang kota Denpasar yang nyaman, asri dan menghijau. Bukankah itu yang kita inginkan bersama?! (Tim Madyapadma Journalistik Park-SMAN 3 Denpasar)

VoT Gelar Pelatihan Penyiar

Radio komunitas Pendidikan 'Voice of Trisma' yang dikelola klub jurnalistik 'Madyapadma Journalistic Park'-SMAN 3 Denpasar  menyelenggarakan Pelatihan Penyiar dan Presenter Talk Show Radio, 17 - 22 Januari 2011 di SMAN 3 Denpasar.

Kegiatan pelatihan diikuti 16 peserta calon penyiar dan presenter talkshow. "Tujuan kegiatan ini untuk menjaring calon penyiar dan presenter talk show radio di VoT," tutur Kordinator Divisi Radio Trisma, Melati Budi Srikandi. Masih menurut Melati, tampil sebagai pembicara dalam pelatihan ini adalah I Dewa Ayu Diah Cempaka, A.A. Ratu Hendry W, Winda Dharma Patni dan I Wayan Ananta Wijaya.
Kegiatan ini merupakan program rutin yang diselenggarakan setahun sekali untuk merekrut calon-calon penyiar dan presenter Talk Show Radio di Voice of Trisma. Bentuk latihan berupa teori dan praktek. "Kami tekankan lebih banyak prkateknya. Agar skill peserta dapat memenuhi standar penyiar radio dan presenter dialog," lanjut Melati sembari menyebutkan bahwa pelatihan ini sekaligus untuk memperingati HUT VoT yang ke-2 (wijaya)

Minggu, 16 Januari 2011

Info Bagi Penulis Muda-Remaja

Hai kawan-kawan 'Suara Muda Bali'

Jika kamu tulisan apa saja, misalnya artikel, berita sekolah, berita di sekitar lingkunganmu, resensi, profil seseorang, esay atau tulisan lainnya, silahkan kirim ke 'Suara Muda Bali'. Tulisan dapat dikirim ke email: suaramudabali@gmail.com.  
Bagi tulisan yang dimuat di blog 'Suara Muda Bali' akan mendapatkan sertifikat. Kami tunggu tulisan-tulisanmu.